Nama : Amrina Rosyada
Kelas : IPA 1
Tugas : T.2 Koneksi Antar Materi
Rangkuman Topik 2
Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata
Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut
KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan
proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak
secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan
terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009), “pendidikan
dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala
kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup
berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.
KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan
yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya
dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak,
agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan
kodrat anak.
Kekuatan sosio-kultural menjadi proses
‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar. Pendidikan bertujuan
untuk menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar
agar dapat memperbaiki laku-nya untuk menjadi manusia seutuhnya. Jadi anak
bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa.
KHD menegaskan juga bahwa didiklah
anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.
Artinya, cara belajar dan interaksi murid Abad ke-21, tentu sangat berbeda
dengan para peserta didik pertengahan dan akhir abad ke-20. Kodrat alam
Indonesia dengan memiliki 2 musim (musim hujan dan musim kemarau) serta
bentangan alam mulai dari pesisir pantai hingga pegunungan memiliki keberagaman
dalam memaknai dan menghayati hidup. Demikian pula dengan zaman yang terus
berkembang dinamis mempengaruhi cara pendidik menuntun para murid.
Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau
karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau
kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai
perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya
(psikomotor). Budi Pekerti merupakan keselarasan (keseimbangan) hidup antara
cipta, rasa, karsa dan karya. Keselarasan hidup anak dilatih melalui pemahaman
kesadaran diri yang baik tentang kekuatan dirinya kemudian dilatih mengelola
diri agar mampu memiliki kesadaran sosial bahwa ia tidak hidup sendiri dalam
relasi sosialnya sehingga ketika membuat sebuah keputusan yang bertanggungjawab
dalam kemerdekaan dirinya dan kemerdekaan orang lain. Budi Pekerti melatih anak
untuk memiliki kesadaran diri yang utuh untuk menjadi dirinya (kemerdekaan
diri) dan kemerdekaan orang lain. Sistem Among menjadi salah satu kekuatan
Mahasiswa untuk memahami secara mendalam peran seorang pendidik dalam menuntun
kekuatan kodrat anak
1. Apa yang Anda percaya tentang peserta didik dan pembelajaran di kelas sebelum Anda mempelajari topik ini?
Jawab:Sebelum mempelajari topik ini, saya percaya bahwa peserta didik memiliki peran pasif dalam pembelajaran di kelas. Saya berpikir bahwa guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan dan peserta didik hanya perlu menerima informasi yang disampaikan oleh guru. Saya juga berpikir bahwa pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas dan tidak ada hubungan dengan dunia nyata.
2. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari topik ini?
Jawab:
Setelah mempelajari topik ini,
pemikiran dan perilaku saya berubah. Saya menyadari bahwa peserta didik
memiliki peran aktif dalam pembelajaran dan memiliki pengetahuan, pengalaman,
dan pemahaman yang unik. Saya juga menyadari bahwa pembelajaran tidak hanya
terjadi di dalam kelas, tetapi juga melibatkan pengalaman di luar kelas dan
hubungan dengan dunia nyata. Saya mulai melibatkan peserta didik dalam proses
pembelajaran, memberikan kesempatan untuk berbagi pendapat, dan mendorong
mereka untuk mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
3. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda merefleksikan pemikiran KHD?
Jawab:
Untuk lebih merefleksikan pemikiran
KHD dalam kelas, saya dapat segera menerapkan beberapa langkah. Pertama, saya
dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, misalnya melalui diskusi kelompok atau
proyek kolaboratif. Kedua, saya dapat mengaitkan materi pembelajaran dengan
konteks dunia nyata, misalnya dengan memberikan contoh atau studi kasus yang
relevan. Ketiga, saya dapat memberikan umpan balik yang konstruktif dan
mendukung kepada peserta didik, mendorong mereka untuk terus berpikir kritis
dan mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam. Dengan menerapkan
langkah-langkah ini, kelas saya akan lebih merefleksikan pemikiran KHD dan
memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.